Teras Hijau Project Pertanian Perkotaan Bandung

Teras Hijau Project Pertanian Perkotaan Bandung

Katalis.net — Pertanian perkotaan sering disalahartikan sebagai berkebun komunitas, homesteading atau pertanian subsisten.

Pertanian perkotaan telah menjadi sarana untuk meningkatkan akses ke pangan lokal dan cara memperkenalkan kembali masyarakat pada banyak aspek pangan yang telah hilang sebagai budaya.

Bagaimana makanan tumbuh, apa yang tumbuh secara regional dan musiman adalah pelajaran penting dan membuat konsumen perkotaan yang lebih terinformasi. Pertanian perkotaan bisa menjadi garis depan sistem pangan.

Teras Hijau Project Kota Bandung

Kota Bandung kini memiliki kawasan urban farming berbasis pengolahan sampah organik di RW 07 Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Cicendo.

Baca Juga

Kawasan seluas 516 meter persegi bernama Teras Hijau Project tersbut merupakan inisiasi dari dosen Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) yang tengah melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam peresmian kawasan urban farming berbasis pengolahan sampah organik tersebut, Walikota Bandung Oded M. Danial menilai, Teras Hijau Project melakukan langkah-langkah turunan dari Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) dalam pengelolaan sampah dengan memberdayakan masyarakat.

“Teras Hijau ini di dalamnya ada urban farming dan ke depannya akan dikembangkan kepada peternakan ayam, madu. Program-program semacam ini sedang bergulir di Kota Bandung, jelas wali kota.

Hingga saat ini, telah ada 150 RW di seluruh Kota Bandung yang mengusung konsep serupa. Meskipun cara di setiap daerah berbeda-beda. Namun gagasan yang dilakukan sama-sama bertujuan untuk ketahanan pangan sekaligus mengurangi sampah organik.

Oded M. Danial menambahkan, dalam Teras Hijau Project, dikerjakan oleh masyarakat, akademisi, dan pemerintah. Ketika kolaborasi seperti ini terjadi, maka ketahanan pangan akan tumbuh di masyarakat.

Sementara itu, Koordinator Teras Hijau Project, Melia Famiola mengatakan, kebun ini memiliki tiga fungsi. Pertama, Crowded Farming Orchestrator.

Melalui fungsi ini, masyarakat bisa datang ke tempat ini membawa sampah organiknya dan diberi poin yang bisa ditukar dengan bibit, pupuk organik, kompos, dan peralatan berkebun lainnya secara cuma-cuma.

Fungsi kedua adalah, sebagai Green Technology Diffusion Assistant. Lewat kebun ini pihaknya ingin membantu para innovator menguji inovasinya, khususnya inovasi yang mendukung keberlanjutan.

Fungsi ketiga adalah, sebagai Green Homebased Business Incubation and New Bio-Base Start Up Accelerator. Ia berharap kebun ini menjadi tempat inspirasi bagi masyarakat dan anak-anak muda untuk melahirkan bisnis baru, bisnis masa depan dengan mengolah dari tumbuh-tumbuhan.

Pertanian Perkotaan

Sejarah pertanian perkotaan berasal dari sekitar 3.500 SM, menurut blog American Society of Landscape Architects ‘(ASLA). Pada simposium sejarawan dan arsitek lanskap, mereka membahas bagaimana petani Mesopotamia mulai menyisihkan lahan di kota-kota berkembang.

Di bagian dunia yang sama sekitar 1.500 tahun kemudian, kota-kota semi-gurun di Persia menawarkan salah satu bukti arkeologis paling awal untuk produksi makanan perkotaan.

Berkat saluran air perkotaan, air pegunungan dibawa ke oasis untuk menghasilkan makanan dengan menggunakan banyak limbah perkotaan di dalam pemukiman.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment