Sejarah Podcast

Bisnis Podcast

Katalis.netPodcast adalah file audio berisi rekaman monolog, obrolan, atau wawancara layaknya siaran radio. Podcast bisa didengarkan melalui platform podcast sepeti Anchor, Spotify, Google Podcast, dll.

Podcast yang divideokan menjadi “podcast video” dan biasa dibagikan di channel Youtube.

Podcast merupakan istilah penggabungan dari kata iPod dan broadcast. Istilah itu dicetuskan oleh kolumnis The Guardian dan jurnalis BBC, Ben Hammersley, pada 2004, dalam “Audible revolution“.

“Pemutar MP3, seperti iPod Apple, di banyak kantong, perangkat lunak produksi audio murah atau gratis, dan weblogging merupakan bagian mapan dari internet; semua bahan untuk ledakan baru di radio amatir. Tapi bagaimana menyebutnya? Audioblogging? Podcasting? GuerillaMedia?” tulisnya.

Setahun kemudian (2005), pendiri Apple, Steve Jobs, meramalkan masa depan podcast. Menurutnya, podcasting adalah generasi baru radio.

Podcasting adalah generasi radio berikutnya dan pengguna sekarang dapat berlangganan lebih dari 3.000 podcast gratis dan setiap episode baru dikirimkan secara otomatis melalui Internet ke komputer dan iPod mereka,” katanya dikutip Forbes.

Riset yang dirilis awal tahun 2016 oleh Reuters Institute yang berjudul “Media, Journalism, and Technology Prediction” menyebutkan, internet memungkinkan format audio untuk bangkit kembali.

Podcast kini menjadi salah satu konten paling populer di jagat media digital. Menurut riset Edison Research and Triton Digital, saat ini ada lebih dari 800.000 podcast aktif dan 54 juta episode di seluruh dunia.

Di Indonesia, menurut survei Daily Social dan Jakpat berjudul Podcast User Research in Indonesia (2018), sebanyak 68 persen responden mengaku familiar dengan podcast. Bahkan, 81 persennya mendengar podcast dalam enam bulan terakhir.

Alasan mendengarkan podcast karena format audio ini dianggap bisa menghadirkan fleksibilitas dan dinamisnya gaya hidup anak muda.

Selain itu, dengan format audio layaknya radio, pendengar bisa melakukan banyak hal secara bersamaan alias multitasking, berbeda dengan menonton video yang membuat kita harus terpaku pada visual.

Sejarah Podcast

Radio hadir sebelum televisi, sama seperti podcasting sebelum YouTube (dan situs video online lainnya).

Podcasting dan radio serupa dalam banyak hal, tetapi podcasting benar-benar memanfaatkan teknologi yang lebih baru.

Blog audio dalam bentuk apa pun dimulai pada 1990-an, tetapi baru pada 2000 pemutar MP3 mulai menyertakan fitur untuk mendownload dan menyimpan konten episodik.

Pada 2003, podcasting benar-benar mulai terbentuk.

Karena membutuhkan banyak pengetahuan teknis untuk membuat dan mendistribusikan audio online, tidak lama kemudian layanan yang memungkinkan orang untuk merekam dan mengupload audio lebih mudah muncul.

Terutama pada saat itu adalah audioblogger.com yang memungkinkan orang merekam dan mengunggah file secara otomatis ke platform blog Google Blogger.

Audioblogger.com (2003-2006) adalah layanan perintis yang memungkinkan pengguna untuk mengirim audio ke blog mereka melalui telepon.

Sekitar waktu yang sama, pengembangan RSS feed berkembang pesat. Ini penting untuk melacak konten blog baru, baik teks, maupun audio. Umpan RSS masih merupakan bagian penting dari podcasting.

Pada 2003, mantan presenter TV Christopher Lydon mulai merekam wawancara audio dengan blogger dan politisi terkenal. Dia kemudian menerbitkan episode di blognya dan merilisnya melalui RSS feed.

Ini tidak jauh berbeda dari tampilan podcast saat ini.

Tak lama kemudian, tahun 2004, Ben Hammersley menciptakan nama “podcasting” untuk konten audio episodik yang dapat diunduh dan disinkronkan secara otomatis.

Pada 2005, iTunes menambahkan podcast ke tokonya dan podcasting telah diluncurkan dari sana. Sekarang ada jutaan podcast di internet dan jutaan orang mendengarkannya.

Demikian sejarah podcast atau podcasting. (Blogging)

Listen, Share, dan Follow Podcast Katalis:

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *