Sejarah Kota Bandung dan Asal-Usul Nama Bandung

Kota Bandung memperingati Hari Jadi ke-210 pada 25 September 2020. Berikut ini kilas sejarah Kota Bandung dan asal usul nama Bandung.

SEJARAH Kota Bandung dimulai ketika pada 25 September 1810 Gubernur Jenderal, Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tentang pembangunan sarana dan prasarana di kawasan Bandung.

Peristiwa ini diabadikan sebagai Hari Jadi sekaligus Hari Ulan Tahun (HUT) Kota Bandung.

Wilayah yang kini menjadi Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan permukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Pemerintahan Kabupaten Bandung pun resmi pindah yang kemudian dipimpin oleh Bupati RA Wiranatakusumah II.

Baca Juga

Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal JB van Heutsz pada 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu 900 hektare.

Luas Kota Bandung bertambah menjadi 8.000 hektare pada 1949. Saat ini, Bandung menjadi Ibu Kota Jawa Barat yang memiliki luas lahan sebesar 167.67 kilometer.

Sejarah Kota Bandung: Legenda Sangkuriang

Sejarah Kota Bandung bermula dari Legenda Sangkuriang yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu.

Air dari danau Bandung menurut legenda, mulai mengering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama Sanghyang Tikoro.

Situ Aksan merupakan daerah terakhir dari sisa-sisa Danau Bandung yang telah kering. Tahun 1970-an masih merupakan danau tempat pariwisata, hingga saat ini sudah menjadi daerah perumahan untuk permukiman.

Kota Bandung secara geografis dikelilingi oleh pegunungan.Fakta ini menunjukkan pada masa lalu Kota Bandung merupakan sebuah telaga atau danau.

Tahun 1896 Bandung belum ditetapkan menjadi kota dengam data penduduk sebanyak 29.382 orang, sekitar 1.250 orang berkebangsaan Eropa, mayoritas orang Belanda.

Kota Bandung mulai dikenal luas ketika pada masa perang kemerdekaan, 24 Maret 1946, sebagian kota ini dibakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai strategi perang. Kota Bandung ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu “Halo-Halo Bandung”.

Asal-Usul Nama “Bandung”

Ada beberapa versi ihwal asal-usul munculnya kata bandung.

Satu versi menyebutkan, bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya Sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga.

Legenda yang menceritakan nama bandung diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut “perahu bandung”.

Perahu ini digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II untuk melayari Citarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Dari sisi bahasa, kata bandung dalam bahasa Indonesia identik dengan kata “banding” yang berarti “berdampingan”. Hal ini merujuk pada kata ngabanding (bahasa Sunda) yang berarti “berdampingan” atau “berdekatan”.

Berdasarkan filosofi Sunda, kata bandung berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung” yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda.

Kata bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Mahakuasa.

Julukan Kota Bandung

Kota Bandung memiliki beberapa julukan, yakni “Kota Kembang” dan “Paris van Java”.

Julukan “Kota Kembang” berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896, saat Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters, yang berkedudukan di Surabaya, memilih Bandung sebagai tempat penyelenggaraan kongres pertamanya.

Tuan Jacob mendapat masukan dari Meneer Schenk agar menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa “noni cantik” Indo-Belanda dari wilayah perkebunan Pasir Malang untuk menghibur para pengusaha gula tersebut.

Kongres tersebut dikatakan sukses besar. Dari mulut peserta kongres itu kemudian keluar istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda.

Dari situ muncul julukan kota Bandung sebagai “kota kembang”.

Julukan Kota Bandung “Parisj Van Java” diulas pada buku Otobiografi Entin Supriatin berjudul Derita pun Dapat Ditaklukan.

Disebutkan, Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Istilah Parijs van Java muncul karena pada waktu itu di Jalan Braga, terdapat banyak toko yang menjual barang-barang produksi Paris, terutama toko pakaian.

Jalan Braga Bandung
Jalan Braga Bandung (Wikipedia)

Toko yang terkenal diantaranya adalah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang menjual gaun wanita mode Paris.

Selain itu, terdapat restoran makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi tempat santap para pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Muncullah julukan lain bagi kota Bandung sebagai “Parijs van Java”.

Bandung Lautan Api

Sebutan “Bandung Lautan Api”  muncul ketika pada Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung mengukir sejarah. Mereka membakar rumah dan harta benda dan meninggalkan Kota Bandung menuju pegunungan di selatan.

Kota Bandung saat itu sengaja dibakar oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan rakyat dengan maksud agar Tentara Sekutu yang ditunggangi Belanda tidak dapat menggunakannya sebagai markas militer.

“Bandung Lautan Api” kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu.

Jenderal AH Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris agar tentara Indonesia melucuti senjatanya.

Istilah “Bandung Lautan Api” muncul pula di harian Suara Merdeka edisi 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Kota Bandung dari bukit Gunung Leutik, di sekitar Pameungpeuk, Garut.

Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”.

Namun, karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”.

Kini peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) diabadikan dalam bentuk monumen, yaitu Monumen Bandung Lautan Api di Tegallega dan digunakan sebagai nama stadion bertaraf internasional di kawasan Gedebage: Stadion Gelanggang Olahraga (Gelora) Bandung Lautan Api atau disingkat Stadion GBLA.

Stadion GBLA menjadi kandang klub sepakbola kebanggan warga Bandung dan Jawa Barat: Persib Bandung. (Sumber: Disdik Jabar)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment