Potensi Industri Halal di Indonesia

Potensi Industri Halal di Indonesia

 

Oleh Raden Roro Azka Nadhira *

Industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan/atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri. Untuk menciptakan industri halal maka bahan baku yang diolah merupakan bahan-bahan yang dihalalkan oleh Allah SWT., serta pengolahannya pun sesuai dengan syariat Islam.

Industri halal telah menarik perhatian dunia baik dari sisi pemerintah maupun pelaku usaha. Bahkan industri halal tidak hanya diminati oleh negara-negara muslim namun juga negara-negara berpenduduk mayoritas non-muslim. Meningkatnya minat masyarakat dunia untuk mengonsumsi kualitas produk halal bukan hanya karena keyakinan, tetapi produk halal juga menjaminkan kualitas produk yang baik, baik dari aspek etika, kesehatan, keamanan, dan keramahan terhadap lingkungan.

Alasan tersebut sesuai dengan Q.S. Al- Baqarah  2 : 58, “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Kawasan industri halal di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena seiring jumlah penduduk muslim yang mencapai 85,2 persen atau sebanyak 200 jiwa dari total penduduk 235 juta jiwa penduduk yang memeluk agama Islam. Dengan jumlah penduduk sekian, maka makanan, minuman, obat-obatan, dan kosmetik yang dikonsumsi masyarakat Indonesia pun berjumlah besar.

Apabila Indonesia mampu mengembangkan industri halal secara masif, seperti yang sudah dilakukan oleh Malaysia, maka Indonesia mampu menempati peringkat atas dalam industri dan pasar halal dunia. Salah satu cara untuk meningkatkan produk makanan halal, dimulai dengan memenuhi target yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, maka pada tahun 2019 semua makanan yang beredar di Indonesia sudah memiliki sertifikat halal.

Selain produk makanan halal, Indonesia juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan industri halal di bidang pariwisata. Indonesia sendiri telah memenangkan tiga kategori Halal Travel Award di United Arab Emirates (UAE) pada tahun 2015. Selain itu, Lombok yang dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid meraih World’s Best Halal Tourism Destination dan World’s Best Halal Honeymoon Destination, sementara Sofyan Hotel Jakarta mendapatkan penghargaan World’s Best Family Hotel.

Selain Lombok, terdapat tiga daerah lain yang menjadi sorotan dalam wisata halal. Tiga daerah lain tersebut adalah, Aceh, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian Indonesia dapat membuktikan bahwa dengan penduduk mayoritas muslim tidak hanya dapat menjadi konsumen, namun juga produsen dalam industri halal.

Dengan terbukanya peluang wisata halal di seluruh Indonesia, maka industri di bidang wisata halal mampu mewujudkan tujuan dari perindustrian berdasarkan UU Perindustrian No. 3 Tahun 2014 Pasal 3e membuka kesempatan berusaha dan perluasan kesempatan kerja, Pasal 3f mewujudkan pemerataan pembangunan Industri ke seluruh wilayah Indonesia guna memperkuat dan memperkukuh ketahanan nasional, dan 3g meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat secara berkeadilan.

Sebagai umat muslim, sudah kewajiban kita untuk mengikuti perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Dengan selalu mengonsumsi produk halal karena menginginkan ridho-Nya, maka sesungguhnya kita sudah mengikuti perintah Allah. Namun kita juga tidak boleh berpaku pada sertifikat halal ataupun perkataan seseorang mengenai sesuatu yang halal ataupun haram. Karena sesungguhnya Islam telah memberikan suatu batas wewenang untuk menentukan halal dan haram, yaitu dengan melepaskan hak tersebut dari tangan manusia, betapapun tingginya kedudukan manusia tersebut dalam bidang agama maupun duniawinya. Hak tersebut semata-mata ditangan Allah.

Dan apabila kita mengejar ridho Allah dengan mengikuti apa yang dihalalkan-Nya niscaya sesuai dengan Q.S. Az Zumar (39 : 52), “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.”

* Staf Biro Internal IBEC

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment