Model Bisnis Pesantren dan Santripreneur

bisnis pesantren santripreneur
Ilustrasi Santri Pesantren (Foto: The Asian Parent)

Katalis.net — Yang dimaksud model bisnis pesantren adalah jenis usaha yang dilakukan pesantren, bukan pesantren sebagai ajang bisnis.

Pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang telah ada jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Lembaga pendidikan keagamaan ini berperan dalam menciptakan budaya Islam di Indonesia.

Pesantren merupakan agen pencerahan bagi peserta didik (santri) dan umat Islam pada umumnya. Ia juga merupakan agen transformasi nilai dan budaya Islami.

Pesantren merupakan rumah untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam. Pesantren pula yang melahirkan ulama, kiai, ustadz, penceramah, dan guru ngaji.

Selain sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pesantren juga bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi dan bisnis.

Daerah yang berada dekat dengan pondok pesantren cenderung memiliki tingkat aktivitas ekonomi yang lebih tinggi dibanding dengan daerah yang berlokasi jauh dengan pondok pesantren.

Puluhan ribu pesantren tersebar di seluruh Tanah Air. Sekitar 80 persennya terdapat di Pulau Jawa.

Pesantren memiliki potensi sumber daya manusia (SDM) yang besar, baik dari kuantitas maupun kualitas. Potensi ini dapat mendorong akselerasi pembangunan ekonomi dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat rujukan ekonomi syariah dunia.

Direktur One Pesantren One Product (OPOP) Training Center, Mohammad Ghofirin, mengemukakan beragam kisah sukses pesantren dalam mengoptimalkan perannya, baik bagi perekonomian maupun kesejahteraan masyarakat sekitar.

Sebagai contoh, Pesantren Istiqomah Al-Amin Lampung  yang dibangun di daerah perkampungan. Sumber pembiayaan operasional pesantren dalam penyelenggaraan pendidikan menjadi salah satu masalah besar yang timbul.

“Dalam hal ini, pesantren tidak bisa mengenakan biaya yang terlalu tinggi bagi para santri karena dikhawatirkan justru akan mempersempit jangkauan pesantren dalam menyediakan pendidikan bagi masyarakat di sekitar pesantren,” kata Ghofirin dalam sebuah seminar Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) di Surabaya, 7 September 2019.

Pesantren tersebut mempunyai strategi untuk mengatasi masalah ini, antara lain lewat pengembangan inovasi usaha budidaya ikan dengan metode bioflok, pendirian kopontren dan BMT, kerja sama dengan dinas dan asosiasi terkait untuk perluasan usaha pesantren.

Pesantren ini juga melakukan optimalisasi potensi SDM melalui penyesuaian metode pembelajaran santri sesuai dengan kecerdasan dasarnya.

“Optimalisasi potensi SDM ini juga bertujuan untuk mencetak santri-santri unggulan yang tidak hanya fokus menjadi ahli dakwah, namun juga dapat berperan sebagai motor penggerak roda perekonomian di masyarakat,” ungkap Ghofirin.

Contoh lain adalah Pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung yang menggembangkan usaha dengan rumusan bahwa kerumunan jamaah bisa menjadi potensi ekonomi.

“Awal pembangunan Daarut Tauhid berawal dari tanah wakaf, dan berkat pengelolaannya yang produktif, saat ini penerimaan Pesantren dapat mencapai Rp 151 miliar per tahun yang berasal dari pendidikan, pengelolaan aset wakaf produktif dan dividen dari anak perusahan yang dikelola. Surplus pesantren saat ini sekitar Rp 5 miliar sampai Rp 10 miliar per tahun,” jelas Ghofirin.

Ada pula pesantren Daarunahdlatain Nahdatul Wathan Panchor Nusa Tenggara Barat (NTB). Pesantren ini terus berinovasi untuk semakin meningkatkan kemandirian pesantren.

Pada masa-masa awal berdiri, tenaga pengajar pesantren dibayar dalam bentuk padi dari tanah wakaf yang dikelola pondok pesantren. Kemudian, pesantren terus berinovasi untuk pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren, melalui berbagai unit usaha pesantren.

“Di antaranya pengelolaan wakaf produktif dengan penerapan inovasi untuk meningktkan kapasitas produksi dan produktivitas di bidang perikanan dan perunggasan bekerjasama dengan IPB, perluasan unit usaha konveksi dan penyediaan jasa makanan melibatkan Santri SMK Pesantren, dan perluasan unit usaha bakery,” papar Ghofirin dikutip Kompas.

Santripreneur

Pesantren juga potensial melahirkan wirausahawan dari kalangan santri. Pemerintah bahkan ingin lebih banyak mencetak pelaku bisnis atau pengusaha dari semua kalangan, baik di sekolah umum maupun pesantren.

Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian membuat program Santripreneur untuk mencetak wirausaha industri baru dari lingkungan pondok pesantren.

Program ini mendorong para santri, khususnya dari generasi milenial untuk bisa terlibat program pelatihan dan agar bisa memiliki keahlian saat mengembangkan industri kecil dan menengah (IKM).

“Ini program perdana tahun ini lewat Program Penumbuhan Wirausaha Baru IKM Berbasis Pondok Pesantren dalam bentuk bimbingan teknis serta fasilitasi mesin dan peralatan,” jelas Gati Wibawaningsih, Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian, dikutip Kontan.*

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *