Dasar-Dasar Jurnalistik: Teknik Reportase

Dasar-Dasar Jurnalistik: Teknik Reportase

Katalis.net — Jurnalistik adalah proses atau aktivitas pengumpulan, penulisan, penyuntingan, dan publikasi berita melalui media massa.

Yang dimaksud “pengumpulan” (collecting/gathering) adalah “berburu” (hunting) bahan berita dengan melakukan reportase (reportage) atau peliputan peristiwa.

Pengertian Reportase 

Secara bahasa, reportase artinya pemberitaan, pelaporan, atau laporan kejadian (KBBI).

Kamus Google mengartikan reportase (reportage) sebagai “”the reporting of news, for the press and the broadcast media” (pelaporan berita, untuk pers dan media penyiaran).

Kamus Cambridge mengatikan reportase sebagai “the activity of, or style of, reporting events in newspapers or broadcasting them on television or radio”.

Secara istilah, menurut Steve Weinberg –sebagaimana dikutip Romeltea Media, reportase berasal dari bahasa Latin, reportare, yang berarti “membawa pulang sesuatu dari tempat lain”.

Dengan demikian, reportase adalah aktivitas sekaligus cara wartawan dalam mengumpulkan data dan fakta guna menyajikan berita.

Data dan fakta yang berhasil dikumpulkan lalu disusun dalam sebuah naskah berupa “rekonstruksi peristiwa” dengan “jalan cerita” yang mengacu pada unsur berita 5W+1H.

  1. What : Apa yang terjadi?
  2. Who : Siapa yang terlibat dalam peristiwa itu?
  3. Why : Mengapa hal itu bisa terjadi?
  4. When : Kapan peristiwa itu terjadi?
  5. Where : Di mana peristiwa itu terjadi?
  6. How : Bagaimana peristiwa itu terjadi?

Keenam unsur berita itulah yang harus diliput atau dicatat oleh wartawan sehingga memudahkannya dalam menulis berita.

Peristiwa yang diliput harus bernilai berita. Dalam jurnalistik dikenal nilai-nilai berita (news values) antara lain:

  • Magnitude — besar-kecilnya dampak peristiwa kepada masyarakat
  • Human Interest — menarik atau tidaknya dari segi ragam cara hidup manusia
  • Prominence — besar-kecilnya ketokohan orang yang terlibat
  • Proximity — jauh-dekatnya lokasi peristiwa dari pembaca
  • Timeliness — kebaruan dari peristiwa tersebut.

Teknik Reportase

Dalam mengumpulkan data dan fakta peristiwa, ada tiga teknik atau cara. Ketiganya merupakan aktivitas rutin wartawan sehari-hari.

1. Wawancara

Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa.

Wawancara disebut juga “wawancara jurnalistik” untuk membedakan dengan wawancara lain, seperti wawancara kerja atau “wawancara” (interogasi) polisi. Wawancara dapat didefinisikan sebagai proses penggalian atau pengumpulan informasi, fakta, atau data tentang sebuah peristiwa atau masalah.

Nyaris tidak ada liputan peristiwa tanpa wawancara. Wartawan pastinya harus bertanya (wawancara) kepada narasumber. Dalam hal ini, misalnya saksi, panitia, korban, pembicara, polisi, terdakwa, dan sebagainya.

Orang yang menjadi objek wawancara disebut narasumber atau sumber berita (news source).

Narasumber dibedakan menjadi dua:

  1. Narasumber primer — narasumber yang paling tahu dan memiliki peranan penting dalam sebuah peristiwa.
  2. Narasumber sekunder  — narasumber yang keterangannya hanya berfungsi untuk melengkapi atau mendukung.

2. Observasi

Observasi adalah teknik reportase berupa datang ke lokasi kejadian, mengamati, dan mengumpulkan data dan fakta peristiwa.

Observasi ini merupakan pengamatan langsung di tempat kejadian perkara atau TKP. Dengan “terjun langsung” atau hadir di lapangan, wartawan akan merasakan langsung peristiwa yang terjadi sehingga ia bisa menyampaikan informasi yang valid kepada para pembaca.

3. Riset Data

Riset Data disebut juga Studi Literatur, Studi Pustaka, atau Riset Dokumentasi, yaitu mengumpulan data, fakta, atau bahan berita melalui arsip, buku, referensi, dan sumber dokumen lainnya, termasuk internet (riset online), terkait dengan berita yang akan ditulisnya.

Sistem Reportase

Dalam reportase dikenal pula istilah Follow Up System dan Beat System:

1. Follow Up System yaitu mencari informasi berdasarkan isu atau masalah yang sudah menjadi berita di media.

Wartawan mengembangkan berita itu atau mencari informasi terbaru (perkembangan baru) sebagai bahan berita baru –melengkapi, mempertajam, atau menekankan hal-hal khusus dari berita tersebut.

2. Beat System yaitu wartawan ”ngepos” atau ”mangkal” pada lembaga atau tempat-tempat tertentu yang dipandang sebagai ”sumber informasi”.

Wartawan mendatangi secara teratur instansi pemerintah atau swasta, atau tempat-tempat lain yang dimungkinkan munculnya hal-hal yang dapat menjadi berita.

Demikian Dasar-Dasar Jurnalistik berupa Teknik Reportase.*

Referensi:

  • Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, Rosdakarya, Bandung 1999.
  • Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Terapan, Batic Press, Bandung, 2001.
  • Asep Syamsul M. Romli, Kamus Jurnalistik, Simbiosa, Bandung, 2010.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *